Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Negeri Penantian

HomeWilujeng SumpingJan 11, 2006
Assalamu alaikum wr wb.
Welcome to Arif Ramdan''s home page!
Thanks for stopping by. Please check out all my pages, and drop me a line to say hi.
Seluruh isi dan materi di home page ini adalah hak cipta Arif Ramdan. Dilarang keras mengutip isi dan materi home page ini tanpa mendapat izin dari pemilik hak cipta.

Salam

Photo Album1 (satu) Tahun Rezky Nov 3, '08 5:46 AM
for everyone

Genap satu tahun....semoga panjang umur nak!

MusicAug 7, '08 11:30 PM
for everyone
Track 02   

Photo AlbumMasjid Raya_CeriaAug 7, '08 1:04 AM
for everyone


Photo AlbumEsai FotoJul 30, '08 2:16 AM
for everyone


Photo AlbumOlah RagaJul 30, '08 2:00 AM
for everyone

Atlet Panahan binaan PPLP Aceh

MusicJul 9, '08 4:03 AM
for everyone
Rafly   
Rafly   
Rafly - Ubat Sosah Beurame Syedara   
PANGGILAN SUCI UNTUK SEBUAH CITA mUZAKIR <> IZZATUL ISLAM 
NEGERI YANG TERLUPA UNTUK SEBUAH CITA mUZAKIR <> IZZATUL ISLAM 
LANGKAH ABADI UNTUK SEBUAH CITA mUZAKIR <> IZZATUL ISLAM 
SulingSunda   
Ada yang Tak Mampu Kulupa   
Titip Rindu Buat Ayah   
Lagu Untuk Sebuah Nama   
D Bendera Nanggroe   
Husein Syahid Ainal Mardhiah Rafli 
Mon Hayati Ainal Mardhiah Rafli 

Photo AlbumJagoan KuJul 8, '08 1:25 AM
for everyone

Muhammad Rezky Ramdani
Jagoanku berdarah Sunda-Aceh
Semoga kelembutan ada padanya, seperti sifat umum orang Sunda. Semoga pula dia tegas mempertahankan prinsip kebenaran yang ada pada sifat umum orang Aceh. Dia yang lahir dari Ibu generasi para pejuang bangsa Atjeh.
Cerita lengkap tentang kelahiran Rezky ada di sini :
http://arif-ramdan.blogspot.com/2007/11/rezky-muhammad-arief.html
lihat juga Rezky nampang di sini : http://www.ayahbunda-online.com/album/default.asp?id=1

Photo AlbumAKSI DAMAI PENYELAMAT MoUAug 15, '06 7:16 AM
for everyone


Photo AlbumAKSI DAMAI PENYELAMAT MoU Aug 15, '06 6:43 AM
for everyone

Ratusan ribu masyarakat Aceh, sejak Minggu (13/8) berdatangan ke Banda Aceh. Mereka menuntut penyempurnaan Undang-Undang Pemerintah Aceh (UU PA) agar sesuai dengan MoU. Hari Selasa (15/8) ratusan ribu warga yang ikut dalam aksi damai tersebut melakukan long march dari Tugu Darussalam, menuju Masjida Raya Baiturrahman untuk melakukan orasi dan pembacaan Petisi Rakyat Aceh.

Photo AlbumAKSI DAMAI PENYELAMAT MoUAug 15, '06 5:12 AM
for everyone


Blog EntryJan 20, '06 11:22 PM
for everyone
Dan Ketika Tsunami Menghentak Sejarah,
Perenungan kita meresap pada kesadaran yang paling dalam
Bahwa negeri ini bukanlah Hanya sepotong peta Selintas Masa
Tapi, Negeri ini adalah sebuah cita-cita.

Di sinilah sebuah potensi yang berharap
Untuk diaktualisasikan, Suatu impian dan harapan
Yang dari waktu ke waktu Minta Di JELMAKAN ..

Tsunami 26 Desember 2004
Adalah bencana terbesar sepanjang sejarah
Gempa dan Dentuman hebat di dasar laut
MENGHENTAK !

Air menyembur dahsyat !
Tak pelak gelombang besar semirip dinding menjalar
secepat pesawat terbang menghantam apa saja
250.000 orang tewas dalam waktu kurang dari satu jam
Mayat menumpuk dan membusuk.

Dan Jika orang tak Berpegang pada Rukum Iman
sungguh tak akan pernah menyangka bahwa bencana itu
Telah ada Di BUMI ACEH.

Foto-foto kawan :
Fotografer Serambi Indonesia Bedu Saini
Fotografer Serambi Indonesia Hari Teguh Fatria
Serambi Indonesia
Eman Mulyatman SABILI




Photo AlbumTARI RANUP LAMPUANJan 19, '06 2:15 AM
for everyone

Tari Ranup Lampuan merupakan tarian khas untuk menyambut dan menghormati setiap tamu yang datang ke Aceh

Photo AlbumPENGGEMUKAN SAPIJan 17, '06 10:32 PM
for everyone

Foto-foto program penggemukan sapi dengan teknologi ramah lingkungan di Meunasah Papeun, Kecamatan Barona Jaya, Aceh Besar

Photo AlbumCERITA SETELAH TSUNAMIJan 16, '06 10:31 AM
for everyone

Suami Salbiah, Ayah Baru untuk Aisyah

GEMPA dan gelombang tsunami yang telah meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam akhir tahun lalu telah mengetuk hati Hendi Saputra, jejaka asal Cileungsi Bogor, Jawa Barat untuk bergabung menjadi bagian dari ribuan relawan yang datang ke Aceh dalam misi kemanusiaan.
Berbekal keahlian di bidang service otomotif, Januari lalu Hendi Sapari terbang ke Serambi Mekkah bersama Tim Ukhuwah Pemuda untuk Aceh (TUPA) di bawah koordinasi Jama'ah Muslimin (Hizbullah) yang berpusat di Bogor, Jawa Barat. Pertama datang di Aceh, Hendi menginjakkan kaki di Lhokseumawe, terhitung selama 10 hari Hendi dan kawan-kawanya menjadi relawan di sana selanjutnya pindah ke Banda Aceh.
Hari-hari yang dilalui Hendi di Aceh cukup dinamis, segala macam pekerjaan dia lakukan. Dari evkuasi mayat, membersihkan rumah penduduk, masjid, sampai service motor yang terendam tsunami pun ia kerjakan bersama teman-temannya. Hasilnya cukup memuaskan, banyak motor yang mangkir di posko Tim Ukhuwah yang ada di Kopelma Darussalam saat itu. "Di sini apapun saya lakukan, untuk membantu saudara saya yang kena musibah," kata Hendi.
Berbilang bulan lamanya hidup sebagai relawan kemanusiaan. kini Hendi telah memulai hidup baru. Pertemuannya dengan Salbiah (23) pengungsi yang tinggal di tenda Kopelma Darussalam, menjadikan Hendi terpaut hati dengan perempuan itu. Pertemuan berawal saat Hendi mendapati Salbiah sedang melamun dekat dapur umum relawan Tim Ukhuwah Pemuda.
"Saat itu saya melihat dia melamun seorang diri," kata Hendi mengenang awal pertemuan. Keinginan mempersunting Salbiah, menguat saat Hendi mendapati Aisyah yang masih berumur delapan bulan, anak Salbiah yang saat itu sedang sakit. "Saya bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Salbiah saat itu, apalagi harus tinggal di tenda," kata Hendi.
Saat gempa dan gelombang tsunami meluluhlantakkan Aceh, Salbiah kehilangan suami dan seluruh harta bendanya. Hanya ada Aisyah dan Zahra buah hatinya yang selamat.
Setelah mengutarakan keinginannya menikahi Salbiah beberapa bulan lalu kepada koordinator timnya, Ustadz Aly Effendi, maka Sabtu (6/8) di Kantor Urusan Agama (KUA) Lambaro Angan, Hendi pun resmi menjadi suami Salbiah, sekaligus ayah baru untuk Aisyah, anaknya yang selamat dari hempasan gelombang tsunami di kawasan Lampriek, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.
Pernikahan tersebut telah mengubah gurat kesedihan Salbiah yang kini mulai memudar. Setidaknya kehadiran Hendi di hati Salbiah juga Aisyah bisa menemani hari-harinya ke depan. Apalagi Aisyah kini mulai sakit-sakitan, bahkan dua hari ini sejak beberapa hari lalu Aisyah kembali dirawat di RS Zainoel Abidin. Kondisi inilah yang mendorong Hendi menyayangi Salbiah dan Aisyah. "Saya terenyuh saat pertama kali melihat Salbiah dengan Aisyah, masa-masa darurat pascatsunami dulu," kata Hendi kepada Serambi saat ditemui di ICCU Anak RSU Zainoel Abidin Banda Aceh, Senin (8/8).
Pernikahan Hendi dengan Salbiah berlangsung sederhana, dihadiri keluarga besar Salbiah yang masih tersisa setelah tsunami, dan juga keluarga besar Tim Ukhuwah Pemuda yang telah menetap di Banda Aceh. Setelah menikah Hendi dan Salbiya berencana tinggal di sebuah rumah di kawasan Rukoh Darussalam. Hendi menjadi relawan yang kesekian mendapatkan jodoh di Nanggroe Aceh Darussalam. Jauh-jauh hari sebelum Hendi, telah banyak relawan yang menikah dengan warga pengungsi.
Mensiasati awal kehidupannnya yang baru bersama buah hatinya, Hendi mulai bekerja di bengkel motor milik Tim Ukhuwah yang sejak sebulan lalu mulai beroperasi di kawasan Rukoh. Kekuatan cinta diyakini akan mampu menghadang apapun, termasuk hari-hari yang masih serba tak pasti yang bakal dihadapi Hendi, Salbiah, dan sang bocah.(arif ramdan

Photo AlbumTENDAKU BUKAN ISTANA TERAKHIRJan 15, '06 6:08 AM
for everyone

Tendaku bukan Istana Terakhir

SETAHUN telah berlalu, musibah tsunami yang menghentak sejarah peradaban manusia tersebut telah menyisakan beragam macam persoalan. Kehidupan masyarakat Aceh pascamusibah mulai berangsur pulih, walaupun sebagian lainnya masih harus tertatih untuk bangkit dari keterpurukan, setelah bencana mahadahsyat itu merenggut seluruh kekayaan mereka.

Saat ini, sebagian pengungsi yang beruntung berhak atas tempat tinggal yang baru dan layak meski sebatas berlindung dari terik matahari dan dinginnya angin malam. Namun keberuntungan itu belum sepenuhnya berpihak pada pengungsi yang lain, termasuk 100-an lebih kepala keluarga yang sampai awal tahun 2006 ini masih mendiami tenda lusuh di Komplek Masjid Kopelma Darussalam, serta 66 kepala keluarga lainnya masih mendiami tenda pengungsian di pinggiran Jalan TP Nyak Makam, Desa Doi, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh.

Sabtu (14/1), Saya berkesempatan menyusuri beberapa tenda pengungsian di Kopelma Darussalam termasuk tenda pengungsi di Desa Doi, Kecamatan Ulee Kareng. Di camp pengungsi yang ramai dilewati lalulalang kendaraan tersebut, didapati sekitar 66 kepala keluarga masih bertahan di tenda yang telah bocor-bocor itu.

Mereka merupakan komunitas pengungsi asal Kampung Jawa yang sejak bulan Februari 2005 mengungsi ke desa tersebut. Dijumpai di tendanya yang tak begitu luas, seorang pengungsi bernama Hermaini (46), perempuan yang dituakan di camp tersebut menyebutkan, 66 kepala keluarga yang mendiami tenda itu merupakan korban tsunami yang sebelumnya hanya mengontrak rumah di kawasan Kampung Jawa. Mereka tak memiliki sejengkal tanahpun di Kampung Jawa. Kondisi seperti itulah, menurut Hermaini yang menyebabkan mereka sampai saat ini sulit mendapat hak atas tempat tinggal (rumah) yang layak setelah seluruh harta mereka hanyut bersama gelombang raya yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 lalu.

Disebutkannya, juga beberapa warga pengungsi lain, juga sudah terlalu sering didatangi oleh beberapa NGO yang menjanjikan akan memberikan bantuan rumah. Namun sampai saat ini semuanya hanya tinggal janji belaka. "Banyak yang datang ke sini mendata kami untuk mendapat rumah, tapi sampai hari tak pernah ada kabar," katanya.

Diakui Khairani, Keuchik Kampung Jawa juga pernah mengajak mereka kembali ke desa tersebut untuk diusahakan mendapat rumah. Menurutnya, ajakan tersebut hanya menambah penderitaan dan tak menyelesaikan masalah. "Kalau kami hanya diminta pindah kesana dan menunggu lagi di tenda, itu sama saja menyiksa diri, " kata wanita setengah baya itu.

Alasan tersebut memang masuk akal, pasalnya saat mereka harus menunggu proses pembangunan rumah untuk mereka yang belum jelas itu, mereka tetap harus tinggal di tenda lagi yang kondisinya lebih parah, apalagi saat datang hujan. Khairani dan 66 KK yang kini masih bertahan di tenda mengaku sering dijuluki komunitas pengungsi yang keras kepala oleh aparat desa di Kampung Jawa. "Kami pernah dibilang keras kepala karena nggak mau kembali ke sana, padahal kami hanya ingin ketenangan. Jangan lagi dipindah-pindah," kata Khairani.

Bagi pengungsi itu, tenda yang sekarang ditempatinya jauh lebih baik ketimbang harus tinggal di tenda Kampung Jawa yang rentan terendam. "Biarlah tenda ini menjadi Istanaku, sebelum kami dapati istana yang lebih baik," sebut wanita itu.

Ungkapan hati pengungsi di Desa Doi itu hanyalah sebuah ironi, betapa mereka sedang berada diambang keputus asaan. Pengungsi asal Kampung Jawa di Desa Doi tersebut, hanyalah segelintir komunitas dari ribuan pengungsi lain yang belum mendapatkan tempat tinggal layak.

Khairani dan pengungsi lain yang tinggal di tenda Desa Doi juga ratusan pengungsi di Kopelma Darussalam, Banda Aceh hanya memiliki satu keinginan, yakni bisa istirahat dengan tenang di rumah yang layak. "Biarpun di pinggiran sungai atau di atas gunung, asal terlindung dari panas dan hujan juga tak dipindah lagi, kami rela ditempatkan, asal tidak terlalu jauh dari tempat kami mencari rezeki," kata Khairani.

Jika penjabat Gubernur NAD, Ir Mustafa Abubakar diawal kepemimpinannya berjanji akan menyelesaikan persoalan rumah untuk pengungsi yang masih di tenda hingga pertengahan 2006, maka saat ini adalah awal yang tepat untuk memindahkan ratusan pengungsi di Kopelma Darussalam, pengungsi Kampung Jawa yang mendiami tenda di pinggiran Jalan T Nyak Makan, Banda Aceh, dan pengungsi tenda di tempat lainya. Jangan biarkan tenda lapuk itu menjadi istana terakhir bagi pengungsi korban tsunami.(arif ramdan) *****

- - - - - - -



Photo AlbumCERIA ANAK PENGUNGSIJan 15, '06 5:33 AM
for everyone

Di sejumlah tempat pengungsian beberapa anak terpaksa hidup apa adanya. Mereka seperti tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi. Bagi mereka bermain adalah segalanya.

Photo AlbumHukuman CambukJan 13, '06 12:05 PM
for everyone


Photo AlbumAceh Seteleh Tsunami .....Jan 13, '06 3:38 AM
for everyone


Photo AlbumBeudoh Beusare ta Bangun Aceh Jan 12, '06 8:13 AM
for everyone


Photo AlbumTergenangJan 12, '06 7:55 AM
for everyone


Pages:12